BERCERMIN PADA PENINGKATAN MUTU
PENDIDIKAN SAINS DI JEPANG
Oleh
IBNU HAJAR
(Tanaga Pengajar pada Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Islam Riau)
A. Sejarah Pendidikan
Jepang yang luasnya setara dengan luas pulau-pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dengan jumlah penduduk 126.182.077 jiwa (world almanac, 2000). Hampir semua orang Jepang adalah ras Mongoloid Asia sehingga masyarakatnya relatif homogenya, perubahan pola demografis menimbulkan berbagai masalah dan mempengaruhi system pendidikan Jepang. Secara administratif, Jepang dibagi dalam 47 Ken (prefecture) atau discrit. Secara sosial-ekonomi, tidak terjadi kesenjangan yang tinggi dalam kekayaan, dan hampir semua orang Jepang dapat dikatakan berada dalam kelas menengah dengan pendapat rata-rata pekerja sekitar 7 juta yen (sekitar Rp.560 juta) per tahun. Kemajuan yang dicapai dalam waktu singkat diberbagai aspek, tentu berkorelasi kuat dengan kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan.
Tahun 668 masehi sudah didirikan sebuah universitas nasional, namun perkembangan ini dan pendirian fasilitas lain untuk pendidikan lanjutan harus menunggu undang-undang Taiho (muncul tahun 701 masehi). Universitas tersebut direorganisasi pada tahun 702. Para dosen diangkat untuk mengajar kaligrafi, ilmu kedokteran versi Cina yang mengutamakan akupuntur, pembuatan almanak, astronomi, music, dan bunyi-bunyian dari karakter Cina. Di setiap propinsi dibangun satu sekolah yang memberi pelajaran kurang lebih sama dengan di universitas, walaupun tak lagi pelajaran yang diberikan masih kurang maju dan lebih rendah mutunya. Undang-undang Taiho merinci hukum khusus mengenai tugas-tugas dosen dan persyaratan akademik siswa. Para siswa merupakan putra-putra pejabat pemerintah tingkat tinggi berusia 13-16 tahun. Masa studi maksimum yang diizinkan bagi siswa untuk merampungkan seluruh pelajaran 9 tahun. Ujian diadakan setahun sekali dan hasilnya menentukan kualifikasi jabatan di pemerintahan.
Perkembangan pendidikan paling penting di bawah kepemimpinan shogun Tokugawa adalah dua gerakan yang sebagian besar saling bertentangan. Pertama adalah memperbaharui minat pada agama Konfusius, yang pada saatnya menjadi suatu renaisans kecil ilmu pengetahuan. Pandangan ini jelas-jelas bersifat antiluar negeri, kendati rasionalismenya menjadi landasan untuk menerima pelajaran ilmu pengetahuan Barat di kemudian hari. Gerakan kedua, salah satu yang mendapat sedikit momentum sampai paruh terakhir periode tersebut adalah semakin meluasnya minat pada ilmu pengetahuan dari Barat, sebuah minat yang menjadi pertanda akan datangnya era baru.
Terkuaknya sepotong tembok isolasi Jepang yang terjadi pada abad ke 18 terpaksa meluas pada abad ke-19. Tahun 1808, dibuka sebuah sekolah bahasa asing yang mengajarkan bahasa Inggris, disusul sebuah sekolah kedokteran yang memberi pelajaran dalam bahasa Belanda dan mempergunakan buku teks bahasa Belanda. Tahun 1871 dibentuk sebuah departemen khusus yang bernama Mombusho (Departemen Pendidikan) dalam pemerintahan nasional dan diberi wewenang yang berhubungan dengan pendidikan. Badan ini dilimpahi tanggungjawab penuh untuk semua urusan kependidikan yang berkaitan dengan pendidikan public.
Sesuai dengan tujuan pencarian ilmu pengetahuan di seluruh dunia, pemerintah Jepang mengirim banyak pangeran dan samurai muda yang cerdas untuk belajar di Eropa dan Amerika serta mengundang para ahli dan guru Barat ke Jepang. Ilustrasi kesungguhan dan peniruan pendidikan asing sebagai berikut:
…Menteri Pendidikan mengintruksikan guru yang berasal dari Amerika agar tidak usah memikirkan bagaimana cara menyesuaikan caranya mengajar terhadap masyarakat Jepang, tetapi ajarkan seperti layaknya ia mengajar di negerinya sendiri. Konsekuesinya, buku-buku ejaan, diagram dinding, dll. Dibuat sepenuhnya menurut model Amerika. Satu-satunya perbedaan adalah huruf Amerika-nya diganti dengan huruf Jepang.
Harus ditekankan betapa besarnya perubahan yang terjadi di Jepang selama paruh terakhir abad ke-19. Barangkali belum pernah terjadi dalam segelintir pemimpin bangsa menghasilkan suatu cetak biru yang spesifik dan kemudian memenuhi spesifikasi tersebut melalui upaya-upaya yang terpadu dan terpusat. Dalam perubahan itu (1907) pemimpin mengambil langkah dramatis dan berhasil memelihara karakter bangsa, juga memelihara nilai-nilai moral dan spiritual tradisional.
B. Jenis Pendidikan
Jenis Pendidikan Sebelum perang dunia II, system pendidikan Jepang memiliki banyak jalur (Multi tract), namun setelah tahun 1980-an pemerintah Jepang melakukan reformasi di bidang pendidikan Taman kanak-kanak menerima anak berusia 3-5 tahun, sedangkan pendidikan dasar (SD) menerima siswa yang berusia enam tahun yang sebagian besar (97 %) berada di SDN, dengan jumlah matapelajaran bervariasi yaitu : 850 jam pelajaran/th untuk grade 1 sampai 1015 dan bagi grade 4-6, Sedangkan kenaikan antara grade berikutnya dilaksanakan secara otomatis.
Sedangkan untuk pendidikan menengah pertama berlangsung selama tiga tahun dengan jumlah jam pelajaran 1015/tahun. Setelah selama 3 tahun melalui ujian masuk, dengan angka partisipasi murni 94 %, namun 18 % diantaranya masuk SLTA swasta , dan 10 % diantaranya mengambil jurusan umum, selebihnya masuk sekolah kejuruan teknik dan pertanian. Pendidikan tinggi (universitas/Daigaku) atau Tin kidaigaku (yunior college), melalui ujian masuk yang meliputi test achivment, interview, test essai, dll, lama pendidikan di Universitas (daigaku) berlangsung selama 4 (empat) tahun sedangkan di Tan kigaikaku 2-3 tahun, serta pendidikan khusus teknik (Peoto Senmogakku) yang berlangsung selama 5 tahun setelah tamat SLTA. Kemudian di Jepang terdapat pendidikan non formal, yang dikenal dengan pendidikan social. Adapun lingkup pendidikan non formal meliputi : teknik pertanian, perikanan, nelayan dan buruh kehutanan. Selain itu juga tersedia pula program-program pendidikan Radio dan televisi untuk pendidikan umum dan keterampilan.
C. Manajemen Pendidikan
Tujuan pendidikan ditegaskan dalam undang-undang pokok pendidikan tahun 1947. Secara umum, pendidikan di Jepang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian secara penuh dengan berupaya keras membangun manusia yang sehat pikiran dan badan, yang mencintai kebenaran dan keadilan, menghormati perseorangan, menghargai kerja, mempunyai rasa tanggungjawab yang dalam, dan memiliki semangat independen sebagai pembangun negara dan masyarakat yang damai. Pendidikan di Jepang menitikberatkan pada pengembangan kemampuan dasar dalam diri generasi muda. `
1. Otorita
· Kebijakan-kebijakan pendidikan adalah tanggung jawab Kementrian Pendidikan , Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dan mengalokasikan dana untuk Board of Education tiap distrik dan kota praja.
· Kementrian juga memberikan pedoman untuk menyusun kurikulum, mata pelajaran serta persyaratan kredit mulai dari kanak-kanak sampai PT.
· Board of education bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan di daerahnya.
2. Pendanaan
· Sistem administrasi keuangan Jepang menyediakan dana secara bersama-sama bagi institusi pendidikan pemerintah yaitu oleh pemerintah pusat, distrik, maupun kota praja yang diperoleh dari pajak dan sumber lain. .
· Dalam tahun 1980, 16,7 trilyun yen diberikan untuk keperluan pendidikan, 54,4 % dialokasikan untuk wajib belajar 9 tahun.
· Pada tahun 1992-1994 pemerintah Jepang mengeluarkan dana sebesar 3,6% dari GNP nya untuk pendidikan.
3. Pendidikan Guru
· Guru-guru untuk sekolah dasar dan sekolah menengah dididik dan dilatih di lembaga-lembaga pendidikan tinggi yaitu di Universitas, Pasca Sarjana dan junior Collage.
· Sertifikat mengajar untuk SD memberi hak kepada guru untuk mengajarkan semua mata pelajaran sedangkan sertifikat untuk sekolah menengah diberikan untuk
mengajar bidang studi tertentu.
· Untuk memperoleh tempat mengajar di SD atau sekolah menengah negeri seorang calon harus mengikuti ujian rekrutmen.
4. Kurikulum
· Kurikulum sekolah didasarkan pada program studi seperti yang ditentukan oleh Kementrian Pendidikan.
· Pada awal tahun 1980, program pendidikan sekolah dasar terdiri dari Bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar, studi ilmu-ilmu social, berhitung, ilmu pengetahuan umum, musik, seni, kerajinan dan pendidikan jasmani.
· Pada sekolah menengah tingkat pertama, mata pelajaran terbagi dalam dua kategori yaitu wajib dan elektif.
5. Ujian, Kenaikan Kelas dan Sertifikasi
· Ujian sekolah ditentukan oleh sekolah masing-masing, tidak ada ujian lain yang sifatnya eksternal. Kenaikan kelas berlaku secara otomatis pada sekolah-sekolah wajib belajar.
· Pelamar SMTA didasarkan atas hasil ujian kemampuan akademik yang diselenggarakan oleh dewan Pendidikan masing-masing.
· Pelamar ke Universitas atau akdemi diseleksi oleh masing-masing lembaga penerima dengan persyaratan telah menyelesaikan pendidikan formal minimal 12 tahun.
D. Issu Pendidikan Sains Jepang
Melalui reformasi ini pendidikan lebih fokus untuk pembentukan identitas diri masyarakat Jepang sesuai pribadi asli bangsa Jepang. Mulai 1990 reformasi pendidikan menghasilkan kebijakan yang mendukung pengembangan lifelong learning. Pada 1886 Arinori Mori, menteri pendidikan pertama di Jepang, memisahkan antara institusi untuk studi akademis (gakumon) dan pendidikan (secara umum) atau kyouiku. Meski sistem ini dihapus pada 1945, pada praktiknya komponen gakumon dan kyouiku tetap ada di kurikulum sekolah modern.
1. Dari fakta yang ada hasil pencapaian tes internasional matematika dan sains murid-murid di Jepang selalu menunjukkan angka tertinggi (Lynn, 1988; NCES, 2003). Richard Lynn, pakar psikologi dari University of Ulster, Inggris, dalam bukunya yang berjudul Educational Achievement in Japan: Lessons for the West menyarankan dunia Barat perlu belajar dari sistem pendidikan Jepang. Para peneliti rata-rata juga menyatakan bahwa spiritualisme (moral), pengembangan pribadi seutuhnya, sistem pendidikan yang efisien dan disempurnakan (kaizen) merupakan beberapa kunci keberhasilan pendidikan Jepang. Di bawah ini dapat dilihat prestasi pendidikan sains di Jepang
Tabel 1
Peringkat Jepang Berdasarkan Studi TIMSS
Tahun
Studi
|
Mata Pelajaran
|
Skor Rerata Internasional
|
Skor Rerata Jepang
|
Peringkat Jepang
|
Jumlah Negara Peserta Studi
|
1999
|
Sains
|
488
|
550
|
4
|
38
|
2003
|
Sains
|
474
|
552
|
6
|
46
|
2007
|
Sains
|
500
|
554
|
3
|
49
|
Tabel di atas menjelaskan peringkat pendidikan sains Jepang melalui pengujian TIMSS berada pada tingkat 4 tahun 1999, dan pada tahun 2007 naik menjadi peringkat ke tiga, meskipun pada periode pengujian sebelumnya turun keperingkat 6. Data ini menjelaskan siswa kelas VIII di Jepang berprestasi, skor yang mereka peroleh berada di atas rata-rata skor internasional.
Tabel 1
Peringkat Jepang Berdasarkan Studi PISA
Tahun
Studi
|
Mata Pelajaran
|
Skor Rerata Internasional
|
Skor Rerata Jepang
|
Peringkat Jepang
|
Jumlah Negara Peserta Studi
|
2000
|
Membaca
|
500
|
552
|
9
|
41
|
Matematika
|
500
|
557
|
2
|
41
| |
Sains
|
500
|
550
|
2
|
41
| |
2003
|
Membaca
|
500
|
498
|
14
|
40
|
Matematika
|
500
|
534
|
6
|
40
| |
Sains
|
500
|
548
|
2
|
40
| |
2006
|
Membaca
|
500
|
498
|
15
|
56
|
Matematika
|
500
|
523
|
10
|
56
| |
Sains
|
500
|
531
|
6
|
56
|
Berdasarkan Tabel 2 di atas peringkat pendidikan sains untuk sekolah menengah atas mengalami penurunan, jika tahun 2000 dan 2003 menduduki peringkat 2, maka tahun 2006 turun menjadi peringkat 6. Penurunan peringkat juga terjadi pelajaran membaca, dan matematika. Sedangkan untuk tahun 2009 mata pelajaran sains Jepang pada peringkat 5 dengan jumlah skor 539 dan rata-rata skor 501
Hasil PISA untuk mata pelajaran sains tahun 2009 ini menunjukan perubahan skor yang diperoleh dari 531 menjadi 539 Meningkat. Peningkatan ini tentunya tidak terlepas dari usaha pemerintah Jepang dalam mereformasi pendidikan. Tetapi sekalipun perubahan selalu terjadi, para pakar pendidikan Jepang mensinyalir adanya kemunduran dalam dunia pendidikan di Jepang.
Kemunduran tersebut di antaranya adalah menurunnya minat bersekolah anak-anak, dekadensi moral dan kedisiplinan yang mulai rapuh, juga prestasi belajar yang menurun yang terbukti dari hasil PISA atau TIMMS, sekalipun beberapa pakar meragukan alat ukur ini sebagai alat yang tepat untuk mengukur kemampuan akademik siswa.
Tahun 2001 Kementrian Pendidikan Jepang mengeluarkan rencana reformasi pendidikan di Jepang yang disebut sebagai `Rainbow Plan`. Apa saja isinya ?
a) Mengembangkan kemampuan dasar scholastic siswa dalam model pembelajaran yang menyenangkan. Ada 3 pokok arahan yaitu, pengembangan kelas kecil terdiri dari 20 anak per kelas, pemanfaatan IT dalam proses belajar mengajar, dan pelaksanaan evaluasi belajar secara nasional
b) Mendorong pengembangan kepribadian siswa menjadi pribadi yang hangat dan terbuka melalui aktifnya siswa dalam kegiatan kemasyarakatan, juga perbaikan mutu pembelajaran moral di sekolah
c) Mengembangkan lingkungan belajar yang menyenangkan dan jauh dari tekanan, diantaranya dengan kegiatan ekstra kurikuler olah raga, seni, dan sosial lainnya.
d) Menjadikan sekolah sebagai lembaga yang dapat dipercaya oleh orang tua dan masyarakat. Tujuan ini dicapai dengan menerapkan sistem evaluasi sekolah secara mandiri, dan evaluasi sekolah oleh pihak luar, pembentukan school councillor, komite sekolah yang beranggotakan orang tua, dan pengembangan sekolah berdasarkan keadaan dan permintaan masyarakat setempat.
e) Melatih guru untuk menjadi tenaga professional, salah satunya dengan pemberlakuan evaluasi guru, pemberian penghargaan dan bonus kepada guru yang berprestasi, juga pembentukan suasana kerja yang kondusif untuk meningkatkan etos kerja guru, dan pelatihan bagi guru yang kurang cakap di bidangnya.
f) Pengembangan universitas bertaraf internasional
g) Pembentukan filosofi pendidikan yang sesuai untuk menyongsong abad baru, melalui reformasi konstitusi pendidikan (kyouiku kihon hou) (MEXT, 2006 dalam Murni Ramli, 2008).
2. Keberhasilan Jepang dalam pendidikan sain juga didukung oleh cara mereka memperkenalkan sains kepada orang muda yaitu dengan menyiarkan informasi tentang tiga peraih nobelist di layar informasi yang terletak di dekat pintu tiket stasiun Nagoyadaigaku yang merupakan luluasan Fakultas Science, Nagoya University. Selain itu menyampaikan keantusiasan masyarakat akan prestasi bidang sains melalui surat kabar, kemudian mewawancarai pelajar atas keberhasilan dalam bidang sains tersebut, juga mempublikasikan hasil temuan dalam artikel koran dan program TV secara menarik.
3. Kemajuan sains di Jepang didukung oleh anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pengembangan sains dan teknologi sebesar 16,2 persen dari total anggaran, jika di Indonesia mendekati seluruh anggaran pendidikan nasional. Anggaran sains dan teknologi di Jepang tergolong sangat tinggi.
4. Kebijakan super science project yaitu pembaharuan sains di tingkat pendidikan dasar dan menengah dengan usaha pengayaan materi belajar sains dan penguatan kegiatan eksperimen di sekolah
5. Guru-guru sains yang mengajar pada pendidikan dasar dan menengah adalah guru bersertifikat yang terjamin keilmuan, kompetensi, dan kecintaannya kepada pengembangan ilmu. Tugas-tugas guru pun ditunjang dengan sarana praktikum dan literatur sains yang memadai.
6. Usaha menciptakan terminologi sains dan teknologi dalam bahasa Jepang. Hal ini karena bahasa Inggris sebagai bahasa sains internasional sangat memberatkan orang Jepang, juga usaha menterjemahkan literatur berbahasa inggris ke bahasa Jepang berlangsung sangat intensif.
E. Peningkatan Mutu Pendidikan Sains Jepang
1) Perubahan Kurikulum
Dalam pembaharuan kurikulum ini masalahnya bukan terletak kepada perubahan isi setiap mata pelajaran (kyouka katei), dan juga bukan pada perubahan metode pengajaran di kelas, tetapigakusyuushidouyouryou harus memuat perubahan sistem pendidikan di sekolah.
Konsep manajemen kurikulum (curriculum management) pada umumnya adalah mengotak-atik mata pelajaran dalam kurikulum, mengubah dan memperbaiki tujuan dan menambahkan atau mengurangi muatan belajar. Tindakan seperti ini bukannya salah, tetapi bagian terpenting dari sebuah pendidikan adalah bukan pada isinya yang banyak, tetapi pendekatan cara mendidik atau rencana Pendidikan di Sekolah. Isinya bukan saja mengenai kegiatan intra kurikular tetapi juga ekstra kurikular. Yang dimaksud dengan kegiatan ekstra kurikular bukan saja berupa klub (bukatsudou), tetapi seharusnya dikembangkan berdasarkan rundingan guru, kepala sekolah, orang tua dengan mempertimbangkan kemampuan anak dan kondisi lingkungan/daerah di mana dia berada.
Dengan kata lain, nafas pendidikan yang mesti dibawakan olehgakusyuushidouyouryou bukanlah perkara yang memaksa guru atau menyengsarakan guru (karena ketidakjelasannya) dalam mengembangkan materi yang dia ajarkan. Akan tetapi gakusyuushidouyouryou harus mengajak komponen sekolah untuk membicarakan bagaimana pendidikan di sekolah seharusnya dikembangkan berdasarkan standar minimal yang ditetapkan pemerintah.
Jika ada seorang guru berhasil mengembangkan materi pelajarannya, mengembangkan metode baru dan selesai dengan cepat menyusun silabus pengajaran, itu bukanlah sebuah kemajuan bagi pendidikan di sekolah. Tetapi yang terpenting adalah menjadikan keberhasilan itu menjadi bukan milik pribadi, tetapi dimiliki oleh semua guru dan aparat sekolah.
Gakusyuushidouyouryou harus diterjemahkan bersama dalam pembicaraan intens antara guru, kepala sekolah dan sesekali melibatkan orang tua. Hasil penggodokannya akan berupa implementasi program pendidikan anak di sekolah.
2) Hasilnya secara umum hanya menggarisbawahi aspek-aspek yang unggul dari sistem pendidikan tersebut, misalnya dasar yang kuat yang ditanam pada para siswa untuk bidang studi matematika dan ilmu pasti, komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik, keselarasan hubungan antara pengajar dan peserta didik, serta budaya pengajaran yang sarat perencanaan dan implementasi yang matang.
F. Simpulan
Pendidikan di Jepang merupakan pendidikan yang mengakar kepada , keperibadian, budaya, jiwa yang dapat membentuk karakter bangsa sehingga terbentuk masyarakat dengan nasionalisme yang tinggi. Pembentukan karakter ini merupakan keberhasilan pemerintah dalam pendidikan.
Kemajuan pemerintah dalam pendidikan sains dilakukan dengan sungguh-sungguh melibatkan seluruh stakeholder pendidikan, dengan memperhatikan kualitas, kontinuitas, integritas sehingga terwujud pendidikan bermutu, dalam upaya menjadikan Jepang sebagai negara terkemuka di segala bidang.
G. Daftar Bacaan
Eka, Wijaya Ismail.Studi Komaratif Pendidikan di Kawasan Asia:RRC, Korea Selatan, dan Jepang. http://educare.e-fkipunla.net Generated: 14 April 2012
I.N. Thut, Don Adams. 2005. Pola-Pola Pendidikan dalam Masyarakat Kontemporer. Edisi terjemahan. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
I Wayan Eka, Christianus, Bercermin pada Sistem Pendidikan di Jepang. Compas.com. Januari 2009.
Laporan PISA 2010
Litbang Depdiknas. 2012. Penilaian PILRS, TIMSS, PISA. http://www.depdiknas.go.id. Diakses 14 April 2012.
Lutfri dan Latisma. 2012. Silabus Mata Kuliah Problematika Pendidikan MIPA Program Doktor Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.
Muriel, P. 2000. Science Education for Contempory Society, Problems, Issues, and Dilemmas. Final Report the International Workshop on the Reform in the Teaching of Science and Technology at Primay and Secondary Level in Asia: Comparative References to Europe. Beijing 21-31 March 2000.
Murni, R. 2009. Konsep Pembaharuan Kurikulum di Jepang. http://www.indosdm.com. Diakses, 14 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar